Gaungan kesakitan terngiang lara
Sang penguasa mencambuk armada
Gaungan kepedihan terhanyut dalam kalbu
Darah tak berdosa menelan debu
Debu hancur bercampur ragu
Ragu akan kebisuan yang menghancurkan kalbu
Inginku memecah hening itu, berteriak lantang, mengaung relung
“kembalikan darah dan nanah kami…”
“kembalikan isi kulit dan tulang kami…”
“kembalikan jiwa musafir ini yang kian hari kian jam kian menit dan kian detik tertusuk arogansimu sehingga tak sepasang mulut ini menganga melantangkan rintihan kesabaran yang hampa ditelan ketakutan…”
Relung ini hampa tak ada guna karena sang penguasa tetap berjaga bersama cambuknya
Dan kami tetap musafir yang setiap detak jantungnya hanya bersisa tulang berlapis debu
Kami, goresan dari darah bertahta yang digarami setiap dentingan keringatnya yang mengucur
Kami, jasad tanpa ruh yang berjaga menjadi armada sang penguasa hingga asa menjadi lara
Tak berguna